PEMKAB PATI SIAPKAN LANGKAH STRATEGIS TEKAN ANGKA STUNTING

Bupati Pati H. Haryanto Optimis Angka Stunting Akan Menurun


Pati, RadarMuria.Com
Berbagai langkah strategis telah dipersiapkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab)  Pati, guna menekan angka stunting (kuntet - akibat gangguan tumbuh kembang anak).

Selain mengalokasikan dari APBD dan Dana Desa (DD), Pemkab Pati juga telah menandatangani MoU (Memorandum of Understanding) dengan Bank Dunia dalam upaya intervensi penanganan kasus stunting, pada 2020.

Hal itu diungkapkan Bupati Pati H. Haryanto dalam Rapat Koordinasi Dewan Ketahanan Pangan Kabupaten Pati, bertempat di Ruang Penjawi Setda Pati, Kamis (31/10).

"Mudah - mudahan angka stunting bisa dikurangi. Saya yakin 2020 pasti berkurang", ucap Bupati Haryanto optimis. 

Angka stunting yang dinilai masih tinggi, bupati menyebut, bahwa data terkait itu masih kontradiktif dengan penurunan angka kemiskinan Kabupaten Pati yang cukup signifikan.

Ia pun merasa tidak yakin terhadap  besaran angka stunting yang ada, sehingga meminta data riil kepada jajaran.

"Validasi data itu in-sya Allah selesai pada 4 November mendatang", terang bupati.

Itu perlu, lanjutnya,  karena dalam laporan selama ini antara angka stunting dengan gizi buruk, datanya masih bercampur.

Padahal, menurut bupati, itu merupakan dua hal yang berbeda.

"Setelah data riil keluar akan diketahui, mana data stunting dan mana data gizi buruk yang valid", tambah bupati.

Namun demikian, pihaknya tetap mengambil langkah maksimal dalam penanggulangan stunting, yaitu menjadi satu diantara program prioritas Pemkab Pati.

Penanganan kasus stunting itu sendiri melibatkan stakeholder terkait, antara lain Dinas Kesehatan, Dispermades, Dinas Sosial, Bappeda, Rumah Sakit, Pemerintah Kecamatan dan Pemerintah Desa.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Pati pada 2018, terdapat 12 desa dengan angka stunting tertinggi.

Diantaranya,  Desa Bogotanjung Kecamatan Gabus, Mulyoharjo Kecamatan Pati, Langgenharjo Kecamatan Margorejo, Bungasrejo Kecamatan Jakenan dan Klakahkasian Kecamatan Gembong.

Prasetya Krisdianto Tenaga Ahli PMD


Terpisah, Tenaga Ahli pada PMD (Pemberdayaan Masyarakat Desa) Dispermades Kabupaten Pati, Prasetya Krisdianto kepada RadarMuria.Com terkait stunting mengatakan, semua desa di Kabupaten Pati harus punya komitmen dalam pembangunan sumberdaya manusia (SDM).

"Apalagi Pati menjadi locus stunting pada 2020, menduduki rangking kedua setelah Surakarta", terang Prasetya.

Ia menambahkan, berdasarkan Data Riset  Kesehatan Dasar pada Kementerian Kesehatan RI, tahun 2013 terdapat 36 persen kasus stunting dan turun menjadi 30.8 persen pada 2018.

"Artinya ada peningkatan menuju lebih baik", tambahnya.

Penanganan stunting, menurut Prasetya, harus melibatkan semua pihak, dalam hal ini Dinas Kesehatan, Ketahanan Pangan, Dispermades, Dinas Sosial dibawah koordinasi Bappeda.

Karena, lanjutnya, kasus stunting di Kabupaten Pati ini, perbandingannya adalah 3 : 1.

Artinya, dari 3 anak yang tumbuh pada usia 2 tahun, 1 diantaranya adalah penderita stunting.

Namun demikian, dengan  upaya yang telah dilakukan oleh Pemkab Pati, Prasetya meyakini angka kasus stunting bisa menurun menjadi 27 hingga 26 persen, tahun depan.

(RM. Usman)

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.