GEBYAR SULTAN AGUNG MERIAHKAN TRADISI MERON SUKOLILO

Bupati Pati H. Haryanto Melepas Karnaval Gebyar Sultan Agung Sukolilo 


Pati, RadarMuria.Com
Karnaval Gebyar Sultan Agung meriahkan Tradisi Meron di Sukolilo Kecamatan Sukolilo, Senin siang (11/11).

Karnaval yang digelar dan diikuti 1500 peserta, mengambil start di halaman Gedung YAPPI (Yayasan Pengembangan Pendidikan Islam) Sultan Agung dan dilepas oleh Bupati Pati H. Haryanto, disaksikan ribuan masyarakat.

Tradisi Meron merupakan ritual adat masyarakat Sukolilo dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, ditandai iring - iringan tumpeng yang oleh masyarakat setempat disebut meron, menuju Masjid Jami' Sukolilo untuk selanjutnya dibagikan kepada masyarakat. Ada juga gunungan yang menyertai. Menambah kemeriahan, iringan biasa diikuti penampilan seni budaya setempat.

Dalam kesempatan itu Bupati Haryanto menyebut, tradisi ini merupakan agenda tahunan yang mampu menarik perhatian masyarakat.

"Sekalipun setiap tahun digelar, animo masyarakat tidak semakin berkurang, justru semakin meningkat", ujar bupati.

Kegiatan ini, lanjutnya, dapat mengingatkan masyarakat terhadap perjuangan sekaligus sebagai penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW dalam menegakkan agama Islam.

"Setelah kehadiran Rasulullah, hingga saat ini kita memperoleh pencerahan. Keimanan dan ketaqwaan kita semakin meningkat", ujar bupati.

Bupati juga berharap, tradisi Meron ini bukan sekadar seremoni dan tontonan, melainkan menjadi tuntunan dalam rangka menggugah masyarakat untuk meninngkatkan kepedulian terhadap pelestarian budaya dan peningkatan ketaqwaan.

Gunungan Ritual Meron Untuk Diperebutkan Masyarakat


Kepala Desa Sukolilo HM. Jumaedi, SH menjelaskan, Meron adalah tradisi turun - temurun yang digelar masyarakat bertepatan dengan hari kelahiran atau maulid Nabi Muhammad SAW.

Pada pelaksanaan kali ini, ada 14 gunungan yang diarak untuk diperebutkan oleh masyarakat.

"Kalau di Surakarta ada sekaten, maka di Sukolilo istilahnya meron. Karena masih ada hubungan. Dan di desa lain namanya sedekah bumi", ungkap Jumaedi.

Ia menuturkan, tradisi Meron adalah sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat atas kelimpahan rezeki dari Allah SWT.

"Dan harapannya ke depan, masyarakat semakin makmur dan desa semakin maju", harap Jumaedi.

Ketua YAPPI Sukolilo Haris Rahmat mengatakan, pihaknya senantiasa  turut memeriahkan tradisi Meron karena dalam tradisi tersebut terdapat nilai - nilai positif yang dapat mengembangkan kualitas kehidupan masyarakat.

Hal itu menurutnya, seduai dengan kaidah fiqhiyah yang dimiliki oleh warga Nahdlatul Ulama dalam menyikapi perubahan sosial.

"Yakni tetap mempertahankan budaya lama yang baik dan mengapresiasi budaya baru yang lebih baik", ujar Haris.

Karnaval Gebyar Sultan Agung 2019 dimeriahkan grup Marching Band MA Salafiyah Kajen dan Paguyuban Tosan Aji Kanigoro Pati,  serta melibatkan siswa - siswi, guru dan karyawan YAPPI Sukolilo, juga masyarakat setempat.

(RM. Usman)

0 komentar:

Post a Comment

Powered by Blogger.