CURAH HUJAN TINGGI, WASPADAI BANJIR DAN LONGSOR


Kepala BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kabupaten Pati
Martinus Budi Prasetya, S.Sos


Pati, RadarMuria.Com               Potensi bencana banjir dan longsor akibat curah hujan tinggi di wilayah Kabupaten Pati harus diwaspadai pada akhir November hingga Desember tahun ini.

"Potensi bencana terkait hidrometrologi berupa hujan, curah hujan yang tinggi, banjir bandang maupun genangan bahkan disertai angin ribut di wilayah Kabupaten Pati, cukup tinggi", terang Kepala BPBD Kabupaten Pati, Martinus Budi Prasetya, Sabtu (27/11/21).

Dia menambahkan, perkiraan puncak musim penghujan akan terjadi pada Januari 2022 mendatang.

"Sehingga dapat kita rasakan di awal - awal musim penghujan pada akhir November ini dan barangkali nanti akan berlanjut di awal Desember", tambahnya.

Beberapa titik yang sering menjadi langganan banjir, ungkap Budi, sudah merasakan dampak tingginya curah hujan. Misal di daerah Glonggong Kecamatan Jakenan yang mendapat kiriman air hujan yang terjadi di Desa Sokopuluhan, Tanjungsekar dan Plosorejo.

"Kemudian di Srikaton, itu air turun dari Slungkep, Sumbersari dan Kayen. Sedangkan di Paras Gabus, air berasal dari Sinomwidodo, Angkatan Lor dan Angkatan Kidul. Itu dampak dari curah hujan yang terjadi di akhir November ini", ungkap Budi.

Namun demikian, lanjutnya, akibat curah hujan tinggi tersebut tidak sampai menimbulkan elevasi ( tinggi genangan) dalam waktu lama, tetapi hanya beberapa jam dan langsung surut.

Berkait menghadapi timbulnya bencana yang terjadi, pihaknya menyebut telah berkirim surat kepada para camat yang wilayahnya berpotensi longsor atau banjir.

"Kecamatan Gembong,  Gunungwungkal, Cluwak dan Tlogowungu perlu diwaspadai longsor atau pergerakan tanah. Yang potensi terjadi banjir genangan mulai Sukolilo, Kayen, Gabus, Pati Kota dan Juwana perlu diwaspadai, biasanya karena akibat luapan air Sungai Silugonggo", sebutnya.

Selain yang disebut di atas, Budi juga mengungkapkan, Kecamatan Batangan dan Jaken, punya potensi terjadi banjir bandang.

Saat ini, BPBD Kabupaten Pati dalam kesiap-siagaan bencana melibatkan unsur TNI, Polri dan OPD terkait terdiri atas DPUTR, Dinkes, Dinsos, Satpol PP serta PMI dan relawan.

"Mereka kita ajak bersama - sama melakukan gerakan - gerakan yang sifatnya tanggap bencana. Dan pada 24 November kemaren, telah kita laksanakan Apel Siaga Bencana", terangnya.

Dengan dukungan personel organik dan relawan sebanyak 350 orang, Budi meyakinkan, mereka siap digerakkan untuk membantu masyarakat menghadapi bencana yang terjadi.

"Kami juga punya dukungan alat berupa perahu bermesin untuk evakuasi, gergaji mesin manakala terjadi pohon tumbang, tim dapur umum darurat dan sak. Dalam keterbatasan, kita siap membantu masyarakat", tuturnya.

Dalam rangka penanggulangan longsor dan banjir, pihaknya juga telah mendorong dan mengajarkan kepada masyarakat untuk membuat akat deteksi dini dengan memanfaatkan teknologi tepat guna yang sederhana dan murah. Dihatapkannya, masyarakat bisa mengadopsi teknologi itu untuk diterapkan di wilayah masing - masing, mengingat keterbatasan EWS (Early Warning System) atau alat deteksi dini yang dimiliki oleh BPBD Kabupaten Pati masih terbatas.

Pihaknya berpesan, masyarakat di sekitar wilayah Pegunungan Kendeng dan lereng Gunung Muria untuk tetap menjaga kelestarian hutan dan lingkungan dengan tidak merusak daerah yang menjadi tangkapan air hujan.

"Misal, mengganti pohon - pohon besar yang berakar kuat dengan tanaman semusim. Itu harus dikurangi. Harus memperhatikan komposisi tanaman", tandas Budi Prasetya.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.